Sabtu, 12 Februari 2011

Cireng Rampat

Pedas-pedas Aneka Isi Cireng Rampat
Ema Nur Arifah - detikBandung


Bandung - Kulit luar yang garing, kenyal di bagian dalam dan rasa pedas bumbu bercampur dengan adonan isi adalah daya tarik dari Cireng Rampat. Tak heran, pelopor cireng isi ini kini seperti pohon kokoh dengan cabang yang tersebar di mana-mana.

Padahal awalnya adalah coba-coba. Seperti dituturkan Egi Ramdani salah seorang pengelola Cireng Rampat di Jalan Cemara 63.

Menurut Egi, ibunya Nani Rohaeni (Ibu Ani) adalah otak kreatif dari keberhasilan Cireng Rampat. Kala itu sang ibu yang memiliki pengalaman bekerja di restoran dipadukan dengan hobi memasaknya mencoba membuat camilan kreatif agar dia dan adiknya tidak jajan di luar.

Kreasi cireng yang dibuat yaitu cireng yang diisi bumbu kacang seperti bumbu pecel. Atas rekomendasi sanak keluarga, rasa cireng yang tak biasa membuat Ibunya memutuskan untuk membuat usaha cireng di tahun 1992. Nama Rampat adalah gabungan dari dua putranya Egi Ramdani dan Bakti Patria.

Rasa baru cireng isi mulai diciptakan tahun 2000. Bukan hanya rasa kacang tapi merambah ke rasa keju, kornet keju, baso, daging sapi, sosis, oncom dan ayam.

"Dulu rasanya lebih lengkap rasa tapi karena keterbatasan produksi maka dikurangi," tutur Egi. Sekarang saja, lanjut Egi, produksi Cireng Rampat dalam sehari total produksi cireng bisa mencapai 40-45 ribu buah. Di mana jumlah tersebut didistribusikan pada 65 lebih mitra di Bandung.

Sistem penjualan dengan kemitraan ini mulai dilakukan tahun 2001. Ketika banyak tetangga yang ingin turut berjualan. Dalam satu hari beberapa mitranya bisa menjual 2 ribu cireng.

Berpusat di Jalan Cemara, Cireng Rampat memiliki dua tempat produksi lainnya yaitu di Banjaran dan Jatinangor. Di Banjaran sendiri dipegang oleh adiknya Bakti Patria. Saat ini Cireng Rampat sudah memiliki 41 karyawan.

Tak hanya di Bandung, Cireng Rampat pun tersebar di Jakarta, Bogor, Sukabumi. "Pernah ada konsumen yang minta dikirim Amerika, Batam juga Singapura. Bahkan salah satu pelanggan adalah Kapolda Sulawesi yang sebulan sekali membeli cireng kita," ujar Egi.

Menurut Egi, salah satu kekhasan rasa Cireng Rampat karena pembuat bumbunya hanya satu orang dan tidak ada pegawai lain yang mengetahui resepnya.

Cireng Rampat pun tidak memakai bahan pengawet sehingga hanya tahan dalam keadaan mentah selama dua hari. "Untuk hari ketiga masih bisa dimakan hanya warna cireng agak kekuningan,"jelasnya.

Camilan ini memang murah meriah karena dijual Rp 1.500 per buah. Jika belum mencoba rasa dari pelopor cireng isi pusatnya di Jalan Cemara No 63. Cireng Rampat pun tersebar di tempat-tempat lainnya di Bandung. Meskipun harus hati-hati karena katanya ada juga Cireng Rampat palsu.(ema/afz)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar